Survei Pemberdayaan Ekonomi untuk Pelaku UMKM di Wilayah Krendang

Yayasan Bina Berdaya Bangsa adalah yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Untuk memastikan kualitas program pemberdayaan yang dilakukan, YBBB selalu berupaya untuk melakukan kajian sebelum menjalankan program. 

Setelah berhasil menyelesaikan pelaksanaan survei umum kondisi masyarakat pada tahun 2021, YBBB melakukan survei pemberdayaan ekonomi untuk para pelaku UMKM sebagai upaya untuk melihat kondisi wirausaha masyarakat dan mengidentifikasi program pemberdayaan ekonomi yang relevan di wilayah Krendang.

Kegiatan survei kali ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2022 dengan melibatkan 117 partisipan yang merupakan para pelaku UMKM dari 7 RW di Kelurahan Krendang dengan jumlah yang proporsional. Melalui kegiatan ini, diharapkan YBBB mendapatkan gambaran mengenai kondisi UMKM di wilayah Krendang yang mencakup, jenis usaha, hambatan, potensi, serta kebutuhan dari para pelaku UMKM untuk mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang relevan untuk menjawab kebutuhan dari para pelaku UMKM di wilayah Krendang.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, diketahui bahwa partisipan survei didominasi oleh perempuan sebanyak 93 orang (79,5%) dan 24 pelaku UMKM lainnya adalah laki-laki (20,5%). Sedangkan berdasarkan persebaran usia, sebanyak 9 orang berada di rentang usia 19-30 tahun, sebanyak 52 orang berada di rentang usia 30-45 tahun, sebanyak 53 orang berada di atas 45 tahun dan 3 partisipan lainnya tidak menyebutkan usianya.

Dalam menjalankan survei tersebut, terdapat beberapa fokus yang ingin digali oleh YBBB untuk mendapatkan gambaran terkait persebaran dan jenis usaha dari para pelaku UMKM di wilayah Krendang. Beberapa hal yang menjadi target identifikasi dalam survei tersebut, dituangkan ke dalam beberapa butir pertanyaan yang telah diklasifikasikan dengan hasil analisa sebagai berikut:

  1. Jenis UsahaChart, pie chart

Description automatically generated

Dapat dilihat bahwa mayoritas pelaku UMKM di wilayah Krendang berjualan makanan dan minuman, baik yang diproduksi secara mandiri maupun dijual kembali. Dengan demikian program yang akan dijalankan oleh YBBB diharapkan secara umum dapat menjawab permasalahan dari pelaku UMKM terutama yang berfokus pada penjualan makanan/minuman.

  1. Tempat Berjualan/Membuka Usaha

Mayoritas pelaku UMKM berjualan atau membuka usahanya di rumah atau halaman depan rumah. Meskipun demikian, berdasarkan diskusi yang dibangun selama proses survei bersama para pelaku UMKM, didapatkan informasi bahwa sebagian besar pelaku UMKM yang menjalankan usahanya di rumah masih tinggal bersama keluarga lain ataupun orangtuanya, sehingga mereka harus berbagi ruang atau tempat untuk berjualan dan tinggal. Kondisi tersebut terkadang menjadi hambatan lain bagi pelaku UMKM karena tidak jarang mereka membutuhkan ruang lebih untuk menyimpan bahan baku yang belum terpakai, dan cenderung merasa segan atau tidak enak dengan keluarga lain jika harus disimpan di rumah.

  1. Pengelolaan Keuangan

Masih banyak pelaku UMKM yang belum menjalankan pengelolaan keuangan secara optimal, sehingga berdasarkan diskusi yang dilakukan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kesulitan dalam mengelola modal dan terkadang berdampak pada keberlangsungan usaha yang terhambat.

  1. Perkembangan Usaha di Setiap Bulan-nya

Dari aspek perkembangan usaha, dari 117 partisipan diperoleh informasi bahwa 70 orang (59,8%) mengalami penurunan jumlah pembeli, 37 orang (31,6%) merasa jumlah pembelinya stabil, dan 8 orang (6,8%) merasa bertambah 5-10 pelanggan dan 2 lainnya tidak menjawab.

  1. Hal yang Mempengaruhi Penurunan atau Peningkatan Pembeli

Kondisi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung saat ini masih cukup kuat dalam mempengaruhi jumlah pembeli. Selain mobilitas, pertimbangan higenitas dan juga protokol kesehatan yang dijalankan oleh pelaku UMKM menjadi hal yang mendukung aspek mobilitas pada situasi pandemi COVID-19.

  1. Kesulitan Usaha

Hal yang menjadi kesulitan usaha terbesar dari para pelaku UMKM adalah kehabisan modal. Hal ini juga berkaitan dengan jumlah pelaku UMKM yang melakukan pengelolaan keuangan yang masih rendah, selain itu jawaban lain yang mengatakan banyak hutang yang tidak dibayar dan pembeli yang kabur, sedikit banyak mempengaruhi modal usaha dari para pelaku UMKM.

  1. Promosi Usaha

Berkaitan dengan promosi usaha, didapatkan bahwa sebanyak 94 orang pelaku UMKM tidak pernah mempromosikan usahanya, 12 orang mempromosikannya melalui WhatsApp, 6 orang melalui e-commerce (Shopee, Tokopedia, dsb), 3 orang melalui Instagram dan Facebook dan 8 orang sisanya melakukan promosi melalui cara lainnya.

  1. Omset Usaha

Terkait dengan omset usaha dari pelaku UMKM di wilayah Krendang, didapatkan informasi sebagai berikut: 24 orang (21,6%) memiliki omset lebih dari 800 ribu rupiah per hari, 21 orang (18,9%) memiliki omset antara 500-800 ribu rupiah per hari, 23 orang (20,7%) memiliki omset antara 300-500 ribu rupiah per hari, 34 orang (30,6%) memiliki omset antara 100-300 ribu rupiah per hari dan 9 orang (8,1%) memiliki omset antara 50-100 ribu rupiah per hari, 2 orang (1,8%) memiliki omset 10-50 ribu rupiah per hari dan 4 orang (3,6%) lainnya menjawab tidak tahu.

  1. Latar Belakang/Motivasi Membuka Usaha

Berkaitan dengan latar belakang/motivasi membuka usaha, didapatkan beberapa kategori tanggapan dari para pelaku UMKM yang menggambarkan latar belakang/motivasi mereka dalam membuka usaha, sebagai berikut: untuk mengisi waktu luang (8%), sebagai penghasilan utama (19%), meneruskan usaha orang/keluarga (12%), membantu suami atau sebagai masukan tambahan (22%), memiliki pengalaman dalam berjualan (9%), berhenti bekerja (12%), memiliki keinginan untuk maju melalui berjualan (6%), memiliki keinginan mempunyai pekerjaan yang lebih bebas (6%), dan tanggapan lainnya yang meliputi dorang orang tua dan hanya menjaga usaha orang lain (1%). Pengkategorian dan penghitungan tersebut akurat dengan tingkat kesalahan (error) dalam penghitungan sebesar 5%.

  1. Cita-cita atau Harapan Terhadap Usaha

Berkaitan dengan cita-cita atau harapan terhatap usaha, didapatkan beberapa kategori tanggapan dari para pelaku UMKM yang menggambarkan cita-cita atau harapan terhadap usaha, sebagai berikut: tidak tahu atau tidak memiliki harapan terhadap usahanya (6%), usaha yang ada sekarang tetap lancar (13%), membuka cabang usaha (13%), menambah varian barang dagangan (13%), usaha lebih berkembang dari segi skala dan jumlah pembeli (24%), memiliki tempat usaha sendiri (12%), serta cita-cita lainnya yang mencakup (memiliki penerus usaha, membuka jenis usaha lain, melanjutkan sekolah anak, membuka usaha secara online, menambah perlengkapan, dan menjadi pengusaha muda (7%). Pengkategorian dan perhitungan ini akurat dengan tingkat kesalahan (error) dalam perhitungan sebesar 12%.

  1. Pelatihan yang Diminati
Chart, pie chart

Description automatically generated

Berdasarkan identifikasi tersebut, secara umum masih cukup banyak pelaku UMKM yang belum tertarik terhadap pelatihan yang akan diadakan, tetapi secara detail pelatihan mempromosikan usaha dan pelatihan berjualan online menjadi jenis pelatihan yang paling diminati oleh para pelaku UMKM. Identifikasi ini tentunya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis intervensi yang akan dilakukan, akan tetapi hasil tersebut perlu kembali dikaji untuk menyesuaikan dengan karakteristik wilayah dan jenis usaha yang dijalankan di wilayah Krendang untuk melihat relevansi jenis pelatihan yang akan diambil sebagai bentuk intervensi dalam bidang ekonomi.

Berdasarkan identifkasi dan temuan yang didapatkan dari pelaksanaan survei UMKM kepada 117 pelaku UMKM, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan dalam proses penyusunan materi dan penentuan intervensi program yang sesuai dengan karakteristik para pelaku UMKM di wilayah Krendang, yaitu:

  • Para pelaku UMKM cenderung tertarik dengan jenis pelatihan mengenai promosi usaha dan juga berjualan secara online. 
  • Permasalahan terkait stok yang sering kehabisan atau berlebih dan juga modal usaha yang sering habis menjadi prioritas masalah yang dihadapi oleh pelaku UMKM. 
  • Selain itu, potensi lain yang dimiliki adalah berkaitan dengan struktur demografi peserta. Meskipun mayoritas diisi oleh pelaku UMKM yang telah tinggal dan membuka usaha selama lebih dari 10 tahun, jumlah pelaku UMKM yang baru menjalankan usahanya selama 1-3 tahun juga cukup banyak. Para pelaku UMKM baru ini yang dapat menjadi potensi untuk menggerakan roda perekonomian masyarakat dengan asumsi dapat lebih mudah melakukan penyesuaian terhadap proses digitalisasi dalam transaksi jual beli dan promosi usaha. Sedangkan UMKM yang sudah cukup lama bertahan, dapat menjadi contoh dan juga gambaran nyata proses menjalankan usaha di wilayah Krendang. 

Secara umum para pelaku UMKM memiliki jenis usaha berjualan makanan/minuman, baik yang diproduksi secara mandiri maupun dijual kembali. Dalam menjalankan usahanya, kebanyakan dari mereka berjualan di depan rumah atau memanfaatkan halaman rumah, namun yang menjadi kendala adalah tidak sedikit dari mereka yang masih menggunakan rumah atau halaman milik keluarga, sehingga perlu dibagi dan mereka tidak memiliki- ruang khusus untuk berjualan.

Permasalahan yang dihadapi berkutat diantara modal yang habis dan stock barang yang berlebihan atau kurang. Kondisi ini menunjukan terjadinya permasalahan terkait pengelolaan usaha, yang mencakup pengelolaan keuangan dan juga sumber bahan baku. Secara umum, pelaku UMKM juga masih merasakan dampak dari terjadinya pandemic COVID-19 karena masih banyak pelaku UMKM yang belum optimal dalam menjalankan usahanya karena jumlah pembeli yang masih berkurang dalam situasi pandemi COVID-19 dibandingkan sebelum pandemi terjadi.

Sebagai sumber pemasukan utama, sebagian besar pelaku UMKM merasa cara mempromosikan usaha dan berjualan online merupakan topik yang relevan untuk sesi pelatihan kepada para pelaku UMKM. Meskipun demikian, hal ini perlu dikaji lebih mendalam lagi terutama untuk melihat relevansi jenis pelatihan yang mereka pilih dengan karakteristik usaha yang mereka jalankan.

× Hubungi Kami!