Keluarga merupakan pondasi penting dalam tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal pemenuhan gizi dan pembentukan kebiasaan penggunaan gawai. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua yang aktif dalam pengasuhan berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan anak, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental (Bornstein, 2015). Berangkat dari kesadaran ini, Program KABAR (Kunjungan Berkala ke Rumah) hadir sebagai inisiatif yang mendorong orang tua untuk mengaplikasikan pengetahuan parenting dan nutrisi yang mereka peroleh melalui kursus ke dalam praktek nyata di rumah.
Program ini difokuskan pada dua aspek penting dalam pengasuhan masa kini: nutrisi anak dan digital parenting. Dalam perjalanannya selama satu tahun, KABAR tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga tempat tumbuhnya perubahan kecil yang berdampak besar dalam kehidupan keluarga peserta.
Program KABAR dirancang sebagai tindak lanjut dari kursus parenting dan nutrisi, dengan pendekatan yang berbasis praktik langsung melalui apa yang disebut sebagai “mini proyek.” Setiap peserta memilih satu dari dua fokus utama:
- Nutrisi: Meningkatkan konsumsi sayur beraneka warna dan mengurangi konsumsi mie instan
- Digital parenting: Mengatur screen time anak dan menggantinya dengan aktivitas alternatif yang bermanfaat.
Selama satu tahun, peserta menerima empat kali kunjungan rumah dari tim program. Kunjungan ini sebagai bentuk pemantauan, diskusi reflektif, dan dukungan berkelanjutan terhadap mini proyek yang dilakukan oleh peserta di rumah mereka masing-masing.
Dari 13 peserta awal, sebanyak 8 orang bertahan hingga akhir program. Meski ada peserta yang mengundurkan diri karena kendala waktu dan kesibukan keluarga, keberlanjutan keterlibatan 8 orang ini menunjukkan komitmen yang patut diapresiasi.
Adapun hasil dari mini proyek sebagai berikut:
- Dari 4 peserta yang memilih fokus nutrisi, 2 orang menunjukkan peningkatan konsumsi sayur secara signifikan dalam keluarga mereka
- Dari 4 peserta yang memilih fokus digital parenting, 3 orang berhasil menerapkan pengaturan screen time dan menemukan aktivitas alternatif yang disukai anak.
Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang ibu peserta program. Ia menceritakan bahwa sejak mengikuti KABAR, ia mulai menerapkan jadwal penggunaan gawai dan mengenalkan berbagai aktivitas lain. Hasilnya, anaknya kini tidak lagi tertarik bermain gadget dan menemukan hobi barunya: mewarnai. Keluarga pun turut mendukung hobi ini, memperkuat ikatan dan komunikasi antar anggota keluarga.
Dampak ini sejalan dengan studi yang menunjukkan bahwa intervensi berbasis keluarga yang mendampingi orang tua secara aktif dapat meningkatkan pengasuhan yang responsif, mengurangi perilaku sedentari anak, serta memperbaiki pola konsumsi makanan (Sanders et al., 2014).
Pelaksanaan program selama setahun tentu tidak lepas dari tantangan:
- Perencanaan yang memakan waktu, karena perlu menyesuaikan materi dengan kebutuhan riil peserta
- Kesulitan menjadwalkan kunjungan rumah, karena setiap keluarga memiliki kesibukan yang berbeda
- Tingkat retensi peserta, di mana 5 orang dari 13 peserta memilih untuk tidak melanjutkan program.
Meski begitu, tantangan-tantangan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berharga, baik bagi pelaksana program maupun peserta.
Dari pelaksanaan KABAR, kami belajar bahwa:
- Perubahan kecil dalam pola pengasuhan berpotensi besar jika dilakukan secara konsisten
- Pendekatan yang personal dan berbasis rumah membangun kepercayaan dan keberlanjutan partisipasi
- Narasi keberhasilan peserta memberikan pengaruh positif pada peserta lain dan memperkuat semangat perubahan.
Ke depan, Program KABAR akan dilanjutkan, melibatkan para ibu lulusan kursus parenting dan nutrisi sebagai peserta baru. Namun demikian, akan dilakukan revisi pada beberapa materi agar lebih sesuai dengan dinamika kehidupan keluarga sehari-hari dan lebih fleksibel dalam penerapannya.
Perjalanan satu tahun bersama KABAR menjadi bukti bahwa intervensi sederhana, jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat, bisa mendorong perubahan nyata dalam kehidupan keluarga. Ini bukan hanya tentang mengurangi screen time atau menambah porsi sayur, tetapi tentang membangun kesadaran, kemandirian, dan koneksi yang lebih dalam antara orang tua dan anak. Semoga KABAR terus memberi kabar baik bagi keluarga-keluarga lainnya di masa depan.




