Pemberdayaan Tidak Seharusnya Berhenti Di Koma

Banyak proyek pemberdayaan terhenti di tengah jalan karena tidak dilanjutkan oleh penerima manfaat. Problema ini juga kami alami saat awal kami menjalankan program di komunitas target. Alih-alih menginisiasi gerakan pemberdayaan, yang ada modal habis tapi tujuan tidak tercapai. 

Kami kemudian mengevaluasi, kenapa ya hal ini dapat terjadi? Dan model seperti apa yang perlu dijalankan agar pemberdayaan berkesinambungan dan berkelanjutan. Artinya, penerima manfaat tidak sekedar mendapat bantuan lalu selesai. Pemberdayaan yang kami percaya tidak seharusnya sampai di sana saja. Kalau diibaratkan dengan kalimat, pemberdayaan yang tidak tuntas seperti belum mencapai titik, baru sampai di tahap koma. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berdaya mempunyai arti berkekuatan; berkemampuan; bertenaga; mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu. Berdasarkan pengertian ini, komunitas berdaya dapat berarti sebuah komunitas yang berkekuatan dan mempunyai akal untuk mengatasi permasalahan dalam komunitas tersebut. Hal ini sejalan dengan cita-cita komunitas berdaya yang menjadi visi Bina Berdaya Bangsa dimana komunitas berdaya diwujudkan ketika masyarakat setempat mampu untuk melakukan perubahan yang mereka butuhkan dan memecahkan masalah yang mereka hadapi.  

Tapi bagaimana membuat pemberdayaan berjalan hingga tahap berkesinambungan dan berkelanjutan?

Model yang saat ini dikembangkan Bina Berdaya Bangsa mencakup 3 tahapan penting, mulai dari edukasi untuk memantik terbukanya sudut pandang sampai pada akhirnya peserta termotivasi untuk membagikan atau bahkan memulai suatu gerakan pemberdayaan di komunitasnya. Yuk kita telusuri tahapannya satu persatu.

  1. Perubahan Sudut Pandang

Sebuah gelas yang terisi setengah bisa memiliki dua sudut pandang: setengah penuh atau setengah kosong. Demikian juga dengan pikiran manusia. Jika Anda terbiasa tinggal di lingkungan dimana seluruhnya berprofesi pengamen, Anda mungkin akan bercita-cita sebagai pengamen tanpa tahu bahwa ada profesi musisi, penyanyi profesional, guru vokal, dan lainnya di luar sana. 

Tugas dan tanggung jawab pemberi manfaat di tahapan ini adalah membukakan adanya sudut pandang baru yang memperluas wawasan penerima manfaat, memantik harapan dan membukakan peluang-peluang yang tersedia.

  1. Dimulai dari diri

Setelah penerima manfaat dibukakan paradigma nya, hal selanjutnya yang kami hembuskan adalah semangat untuk mulai mempraktekkan apa yang sudah dipelajari. Karena itu, setiap kursus dan penyuluhan yang dilakukan di Bina Berdaya Bangsa selalu disandingkan dengan aktivitas saat kursus dan praktik di rumah. Dalam kursus nutrisi misalnya, selain praktek saat kursus, ibu-ibu didorong untuk memasak satu jenis makanan sehat di rumah sesuai dengan konsep piringku yang diajarkan dalam kursus. Bina Berdaya Bangsa menyediakan sejumlah resep dan video cara memasak makanan sehat dan praktis yang dapat diakses peserta di kanal daring YouTube. Masakan ini lalu divideokan dan disebar dalam grup sosial media agar ibu-ibu lainnya juga termotivasi mempraktekkan. Metode ini terbukti menambah antusiasme peserta dan meningkatkan persentase peserta yang mempraktekkan pola hidup sehat.

(foto salah satu praktek nutrisi)

  1. Terbentuknya gerakan pemberdayaan 

Gerakan pemberdayaan sejatinya dimulai oleh warga lokal. Karena itu dari awal kursus, Bina Berdaya Bangsa melakukan rekrutmen relawan lokal yang berasal dari komunitas penerima manfaat. Relawan dilatih menjadi fasilitator yang akan membawakan kursus dengan alat bantu video serta kartu baca. Kami sangat berbesar hati melihat bagaimana ibu-ibu merasa bangga saat mampu membawakan salah satu sesi kursus. Ada beberapa ibu yang belum pernah memimpin kelompok sepanjang hidupnya terlihat berbinar dan menjadi lebih percaya diri setelah memimpin kelompok. Kami berharap lewat rangkaian pengalaman ini mereka menjadi mampu menjadi agen perubahan dan pemberdayaan di masa depan.

(foto salah satu relawan membawakan materi kursus)

Satu demi satu tahapan tersebut menjadi rangkaian jangkar pemberdayaan yang dihadirkan dalam setiap program Bina Berdaya Bangsa agar pemberdayaan itu dapat sampai pada pelabuhan tujuannya, tidak hanya berhenti sampai di tengah jalan atau di tanda koma. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Kami!