Refleksi Hari Ibu Internasional dari Pinggiran Jakarta
Hari Ibu Internasional adalah momen penting untuk mengingat bahwa kemajuan bangsa tak lepas dari kemajuan perempuannya. Namun, di Indonesia, perempuan—terutama yang hidup dalam kondisi prasejahtera—masih menghadapi banyak tantangan.
Mulai dari ketimpangan gender, peran ganda, hingga terbatasnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, semuanya menjadi penghambat bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya.
Tantangan yang Masih Ada
Menurut Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA dalam forum Commission on the Status of Women ke-68 di PBB, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia berada di peringkat ke-9 dari 10 negara ASEAN. Kondisi ini diperburuk dengan tingginya angka kematian ibu dan maraknya praktik pernikahan anak. Bahkan, berdasarkan data BPS 2018, 1 dari 9 perempuan usia 20–24 tahun menikah saat masih anak-anak.
Harapan dari Akar Rumput
Di tengah tantangan ini, muncul harapan dari gerakan akar rumput. Salah satunya datang dari kerja Yayasan Bina Berdaya Bangsa (YB3) di Kelurahan Krendang, Jakarta Barat.
YB3 percaya bahwa pemberdayaan perempuan dimulai dari langkah-langkah kecil namun bermakna—dimulai dari rumah, sekolah, dan komunitas lokal.
Apa yang Dilakukan YB3?
1. Kemitraan Setara dengan PAUD yang Dipimpin Perempuan
YBBB bekerja sama dengan tiga PAUD di Kelurahan Krendang, yang semuanya dipimpin oleh perempuan. Kemitraan ini tidak bersifat top-down, melainkan didasarkan pada kesetaraan dan saling menghormati. Setiap tahun, kami menyusun Memorandum of Understanding (MoU) bersama, merancang program parenting dan edukasi gizi bagi para wali murid.
Keputusan diambil secara partisipatif, dan penyelesaian masalah dilakukan secara kolektif. Peran kepala sekolah sebagai pemimpin perempuan menjadi kekuatan tersendiri dalam mendorong perubahan di lingkup keluarga dan komunitas.
2. Pemberdayaan Relawan Lokal (Mayoritas Ibu)
YB3 hanya melaksanakan kegiatan jika ada keterlibatan relawan lokal dari kelompok masyarakat itu sendiri. Menariknya, sebagian besar relawan adalah para ibu dari murid PAUD. Mereka kami latih secara sederhana untuk menjadi fasilitator kegiatan edukasi. Pelatihan mencakup tanggung jawab relawan, praktik langsung, hingga evaluasi bersama.
Banyak dari ibu-ibu ini yang sebelumnya belum pernah tampil di depan umum. Salah satu dari mereka mengaku: “Saya jadi lebih percaya diri, bisa bicara di depan umum, dan merasa berguna.”
3. Edukasi Partisipatif bagi Orang Tua
Setiap kegiatan pendidikan dirancang agar melibatkan peserta secara aktif. Topik yang dibahas sangat kontekstual, seperti:
- Pola makan sehat untuk keluarga.
- Komunikasi harmonis antara pasangan.
- Aturan penggunaan gawai anak dan waktu tidur.
- Disiplin positif dalam pengasuhan.
Sebagian besar peserta adalah ibu pekerja, namun ruang partisipasi untuk bapak tetap dibuka.
Melalui kegiatan ini, kami mendorong para ibu untuk menerapkan perubahan kecil namun berdampak, seperti membangun komunikasi harmonis dalam keluarga, menetapkan rutinitas anak, hingga menyusun menu makan yang seimbang dengan sumber daya terbatas.
Mengapa Pemberdayaan Perempuan Itu Penting?
Penelitian dan pengalaman lapangan menunjukkan:
- Perempuan yang berdaya meningkatkan kesejahteraan keluarga.
- Akses pada pendidikan dan pelatihan membuat perempuan lebih mampu mengambil keputusan, berpenghasilan lebih tinggi, dan mengedukasi anak-anak mereka lebih baik. Siklus ini menciptakan perubahan jangka panjang yang berkelanjutan
- Perempuan yang paham kesehatan reproduksi dan gizi lebih mampu menjaga kesehatan diri dan keluarganya.
- Dukungan terhadap inisiatif lokal yang dipimpin perempuan mendorong kepemimpinan komunitas yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya pendekatan holistik berbasis komunitas.
“Perempuan bukan objek pembangunan. Mereka adalah aktif perubahan sosial dan ekonomi.”
Dari Krendang untuk Indonesia
Apa yang dilakukan YB3 di sudut kota Jakarta mungkin tampak kecil. Tapi kami percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan bermakna.
Seperti kata R.A. Kartini:
“Peradaban bangsa tidak akan deras majunya selama kaum perempuan dijauhkan dari usaha memajukan bangsa.”
Hari Ibu Internasional adalah saat yang tepat untuk kembali menegaskan komitmen kita:
Memperkuat perempuan berarti memperkuat masa depan bangsa. Perempuan bukan sekadar “objek” pembangunan, melainkan subjek aktif yang mampu menggerakkan perubahan sosial dan ekonomi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang program pemberdayaan YB3? Hubungi kami di @bina_berdaya_bangsa. Mari bergandengan tangan menciptakan perubahan.




