Dalam peningkatan kualitas kehidupan masyarakat mencapai sejahtera (well-being), pendekatan yang biasa digunakan oleh pemangku kepentingan bersifat “top-down”, artinya program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ditetapkan tanpa melibatkan kelompok “pra-sejahtera” itu sendiri. Seringkali program pemberdayaan yang dirancang dengan menggunakan konsep pendekatan seperti itu gagal. Untuk itu, kolaborasi dan sinergi dari berbagai elemen masyarakat baik organisasi sipil dan sektor swasta diperlukan untuk menyeimbangi dan memperlengkapi pendekatan yang digunakan sebagai upaya mencapai kesejahteraan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses membangun komunitas masyarakat melalui pengembangan potensi (kemampuan) masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat, yang mana akhir atau tujuan dari pemberdayaan ini adalah mencapai masyarakat yang berdaya atau mandiri. Untuk itu, sangat penting untuk memperhatikan metode pendekatan yang digunakan untuk menjalankan konsep pemberdayaan masyarakat. Pendekatan bottom-up atau partisipatif dinilai tepat untuk digunakan pada konsep pemberdayaan masyarakat. Ini dikarenakan pendekatan bottom-up atau partisipatif menitikberatkan pada pelibatan aktif dari para penerima manfaat (beneficiaries). Masyarakat diharapkan berperan aktif mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga pada pemantauan. Pemberdayaan melalui pelibatan aktif masyarakat dengan pemetaan dan pengembangan potensi dan kebutuhan masyarakat secara bersama diharapkan dapat membangun komunitas menjadi berdaya atau mandiri melalui hasil yang dirasakan dan mempengaruhi kehidupan masyarakat sesuai dengan yang diperlukan secara efektif, efisien, dan berkesinambungan.
Dalam jurnal Pengembangan Model Pendekatan Partisipatif dalam Memberdayakan Masyarakat Miskin Kota Medan untuk Memperbaiki Taraf Hidup, Andriany (2015) menyatakan bahwa pemberdayaan dengan pendekatan bottom-up yang menitikberatkan pada pelibatan masyarakat sejak awal, pengambilan keputusan serta berkomitmen, membuat masyarakat lebih merasa “memiliki” dan bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan dan keberhasilan dari rangkaian pemberdayaan yang dilakukan. Lalu, bagaimana apabila pendekatan ini diterapkan secara langsung pada suatu konsep atau konteks pemberdayaan masyarakat pra sejahtera khususnya di wilayah perkotaan?
YB3 dalam Melibatkan Masyarakat dalam Pemberdayaan
Yayasan Bina Berdaya Bangsa (YB3) merupakan salah satu NGO yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat prasejahtera perkotaan. YB3 dalam praktik pemberdayaan juga secara aktif melibatkan masyarakat. Masyarakat memegang peranan penting dalam proses dan tahapan pemberdayaan, karena tujuan akhir dari pemberdayaan ialah masyarakat memiliki “rasa kepemilikan” terhadap program pemberdayaan. Sehingga, YB3 melibatkan masyarakat dalam pembuatan program, dari tahap mengenal masalah yang dilakukan melalui survei, kunjungan untuk melakukan wawancara kepada beneficiaries (penerima manfaat) dan pemangku kepentingan (RT, RW, PKK, Pihak Kelurahan), dan Focus Group Discussion (FGD) bersama masyarakat yang punya concern pada permasalahan tersebut.
YB3 juga secara aktif melibatkan masyarakat dalam tahap merancang program dan juga menjalankan program yang sudah disepakati bersama. Pada awal berjalannya program, YB3 akan berperan sebagai fasilitator dan akan ada relawan lokal yang membantu menjalankan program. Secara bertahap dengan membiasakan masyarakat terhadap program yang disepakati, program kesejahteraan akan diinisiasi oleh masyarakat dan kemudian masyarakat akan secara penuh dan mandiri dalam melaksanakan program pemberdayaan.
Pelaksanaan pemberdayaan dengan melibatkan masyarakat bukan merupakan hal yang mudah, ada beberapa tantangan yang ditemukan oleh YB3 dalam menjalankan berbagai program bersama masyarakat, salah satunya adalah mobilitas dan padatnya waktu aktivitas dari masyarakat. Mobilitas dan waktu masyarakat yang berbeda, dimana masyarakat banyak yang beraktivitas dari pagi sampai sore bahkan malam di konveksi, maupun tempat kerja dan juga sekolah, atau pelaku UMKM yang harus berjualan dari malam sampai dengan subuh dan akan beristirahat di pagi hari. Dalam mengatasi tantangan ini, YB3 bersama-sama dengan masyarakat yang menjadi target sasaran program, mencoba menyepakati waktu pelaksanaan program bersama. Kesepakatan waktu pelaksanaan ini membuat masyarakat untuk terlibat aktif.
YB3 menemukan tantangan lainnya, yakni masyarakat yang belum siap terhadap perubahan. Dalam mengatasi tantangan ini, YB3 akan mencari masyarakat yang siap untuk melakukan perubahan. YB3 percaya, bahwa masyarakat yang siap untuk berubah dan bahkan sampai dengan tahapan berubah, mampu meng-influence masyarakat yang lain untuk berubah.
Perjalanan YB3 dalam pemberdayaan dengan pelibatan masyarakat secara aktif bukanlah suatu perjalanan yang mudah, namun untuk tetap berdiam diri dan tidak berubah adalah sebuah langkah yang salah. YB3 bersama dengan masyarakat Krendang sampai saat ini masih terus berjalan menuju Krendang Berdaya, dengan pelibatan aktif masyarakat dan berbagai tantangan yang ditemui, merupakan perjalanan yang panjang, tetapi bukan berarti tidak mampu mencapai tujuan, yakni masyarakat berdaya.
Referensi:Andriany, Dewi, 2015. Pengembangan Model Pendekatan Partisipatif dalam Memberdayakan Masyarakat Miskin Kota Medan untuk Memperbaiki Taraf Hidup, Jurnal Seminar Nasional Ekonomi Manajemen dan Akuntansi (SNEMA), 2015




