Aspek Kunjungan : Katalisator dalam Pelayanan Masyarakat Pra-sejahtera

Salah satu upaya strategis dalam perjalanan mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia menjadikan rakyat Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur adalah pengembangan masyarakat melalui pemberdayaan untuk mencapai kesejahteraan. Menurut PP Nomor 39/2012, pemberdayaan sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk menjadikan warga negara yang mengalami masalah sosial mempunyai daya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Upaya tersebut dapat diarahkan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pasal 16 menyebutkan pemberdayaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemauan dan kemampuan. Pasal 17 nya membunyikan bahwa salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan adalah pendampingan. 

Pithouse (1998) menggambarkan pekerjaan sosial sebagai “perdagangan tak kasat mata” yang mayoritas transaksinya terjadi di ruang privasi (rumah) dari penerima layanan sosial tersebut. Pink et al (2015) bahkan menegaskan bahwa kunjungan rumah merupakan bagian dari kehidupan kerja berbagai profesi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kunjungan rumah memegang peranan penting dalam keberhasilan pekerjaan-pekerjaan sosial dalam bentuk apapun, termasuk pemberdayaan. Sayangnya, aspek ini acapkali diabaikan dalam penelitian dan literatur pekerjaan sosial.

YB3 sebagai salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang pemberdayaan, bergerak dengan cara yang profesional dan dinamis, namun tetap mempertimbangkan kebijaksanaan lokal yang telah terbentuk di masyarakat jauh sebelum kami hadir di Krendang. YB3 selalu memiliki semangat “pelibatan masyarakat yang bermakna” dalam setiap program yang dilakukan. YB3 menyadari masyarakat pra-sejahtera memiliki potensi, namun kadang potensi tersebut belum “dibangkitkan”. Kesadaran lain adalah mengenal masyarakat bukan upaya yang bisa dilakukan hanya dalam satu waktu saja, melainkan bertahap dan konsisten.

Kajian akademis dikuatkan dengan pengalaman lapangan yang dimiliki menjadi alasan utama YB3 menjadikan aspek kunjungan sebagai kegiatan strategis dalam setiap bidang program. YB3 saat ini memiliki 4 bidang yang menjadi fokus dalam upaya pemberdayaan masyarakat, satu diantaranya masih dalam perintisan. Kunjungan merupakan kegiatan yang YB3 lakukan apapun bidang programnya. Kunjungan dilakukan kepada individu, keluarga maupun kelompok tertentu di masyarakat. Meskipun terlihat sederhana, namun kegiatan kunjungan harus dilakukan dengan persiapan yang matang. 

Hal pertama yang tim YB3 lakukan adalah menetapkan tujuan dari setiap kunjungan, kemudian menyesuaikan metode kunjungan, lalu membuat materi yang diperlukan. Misalnya, tujuan kunjungan adalah mendapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kebiasaan makan anak. Maka, tim akan memilih metode kunjungan berbentuk survei wawancara, menyiapkan alat bantu yang dibutuhkan (contoh : kuesioner), menentukan jumlah rumah tangga yang akan dikunjungi serta membuat timeline pelaksanaan. Selain wawancara, metode lain yang umumnya dipakai dalam kegiatan kunjungan YB3 adalah observasi dan diskusi berkelompok.

Kunjungan ke individu maupun ke keluarga memiliki banyak manfaat terhadap keberlangsungan program. Sebagai seorang staf yang secara langsung menangani pelaksanaan program, hal pertama yang paling dirasakan adalah terbangunnya hubungan yang baik, bukan hanya dengan individu/keluarga yang dikunjungi, tetapi secara tidak langsung juga meluas kepada warga dimana individu/keluarga tersebut tinggal. Memang, bukan aspek kunjungannya yang serta-merta menjadikan hubungan terbangun dengan baik, tetapi didukung oleh frekuensi kunjungan, sikap dan etika dalam bermasyarakat ketika datang/berkunjung ke lingkungan yang baru. Perlu diingat, di bidang program manapun, YB3 melakukan lebih dari satu kali kunjungan ke satu orang/keluarga/kelompok tertentu. Bukankah hubungan yang terbangun dengan baik menjadi faktor penting yang memudahkan terlaksananya/berlangsungnya sebuah program, karena sudah ada kepercayaan dari masyarakat?

Sebuah artikel ilmiah menggambarkan ketika seorang pekerja sosial melakukan kunjungan rumah, ia akan mendapati “keaslian” dari kehidupan atau keseharian dari masyarakat yang ia layani, dan hal ini memberi informasi serta observasi penting bagi pencapaian keberhasilan program. Sejalan dengan pengalaman tersebut, kegiatan kunjungan yang telah dilakukan memang membantu YB3 mengidentifikasi bahkan menemukan kebutuhan-kebutuhan spesifik yang tidak akan bisa diperoleh hanya dari kegiatan-kegiatan dalam kelompok besar. Dari berbagai temuan ini, YB3 dapat melakukan evaluasi serta penyesuaian terhadap program yang sudah terlaksana. Hal ini sangat membantu YB3 merancang program yang kontekstual dan sesuai dengan kebijaksanaan lokal. 

Sumber :

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.
  2. Ferguson H. Making home visits: Creativity and the embodied practices of home visiting in social work and child protection. Qual Soc Work. 2018 Jan;17(1):65-80. doi: 10.1177/1473325016656751. Epub 2016 Aug 1. PMID: 29276431; PMCID: PMC5726604.