Cycle of Change – Siklus Perubahan

Masalah apa yang Anda lihat, yang menjadi fokus perhatian Anda atau lembaga Anda? Masalah yang kalau dipikirkan membuat Anda merasa berat hati, dan ingin bertindak untuk mengatasinya? Apakah itu sebuah masalah kesehatan? Masalah ketidakadilan? Masalah penindasan? Masalah kekurangan pengetahuan?

Menurut Anda, bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut? Bagaimana Anda dapat melihat situasi itu berubah?

Di YB3, masalah yang kami pilih sebagai fokus adalah ketidakberdayaan masyarakat pra-sejahtera perkotaan. Kami mempunyai sebuah filosofi sekalian cara kerja lewat pemberdayaan, dengan definisi “sebuah proses di mana individu, keluarga dan masyarakat menjadi semakin kuat, mampu dan percaya diri sehingga bisa memaksimalkan potensi dan kapasitas.”

Kami percaya bahwa perubahan tidak bisa dihasilkan oleh pihak luar, tapi harus diraih oleh seseorang atau sebuah masyarakat sendiri. Namun, salah satu tantangan yang kita sering menemukan adalah bahwa tidak semua orang tertarik akan perubahan yang kita tawarkan. Sebenarnya, sering kali, kita sulit menemukan orang-orang yang tertarik, yang merasa perubahan ini cukup penting untuk mereka sendiri memutuskan untuk terlibat dalam prosesnya.

Bagaimana kita bisa mendampingi kelompok sasaran kita untuk bisa menerima dan melakukan perubahan yang akan membawa dampak baik bagi mereka, keluarga mereka dan masyarakat mereka?

Salah satu model yang sangat berguna ketika kita memikirkan perubahan disebut “Siklus Perubahan”, sebuah konsep yang dikembangkan oleh Prochaska dan Diclemente awalnya untuk dipakai dalam konseling seseorang untuk berhenti merokok, namun setelah itu diaplikasikan secara lebih luas.

Tahap pertama adalah pre-contemplation, saat kita atau orang yang kita layani belum berpikir untuk berubah, belum sadar kebutuhan untuk berubah, belum terbuka wawasan untuk hal yang sedang dibahas – baik itu nutrisi, cara membesarkan anak, kesehatan mental, kebiasaan dll.

Saat masuk ke tahap contemplation, mulai berpikir dan menimbangkan perubahan. Sudah menjadi sadar bahwa ada sebuah isu atau kesempatan, tetapi belum memutuskan apakah mau menindaklanjuti.

Bagi kami di YB3, tahap yang sering dihadapi di masyarakat adalah pre-contemplation dan contemplation. Apakah mungkin Anda pernah alami yang mirip?

Ketika berada di fase pre-contemplation ataupun contemplation, ada beberapa tips. Sebelumnya, jangan lupa kedua kebenaran ini:

  1. Setiap orang, dalam diri mereka sendiri, mempunyai kapasitas untuk berubah (prinsip pemberdayaan)
  2. Setiap orang berhak untuk mengambil keputusan sendiri mengenai hidup sendiri (asal tidak menyakiti orang lain).

Strategi yang bisa dibahas dengan orang atau kelompok yang berada di pre-contemplation atau contemplation adalah membahas bersama untung rugi menurut mereka dari sebuah perubahan. Membahas bagaimana hidup mereka ke depannya kalau tidak ada perubahan tersebut, atau kalau ada perubahan tersebut. Memahami alasan mengapa mereka tidak mau berubah, dan menghargai sudut pandang mereka. Belum tentu kita lebih tahu dari mereka apa yang terbaik bagi mereka.

Kita bisa membahas kesiapan mereka untuk berubah dengan kedua pertanyaan ini:

  1. Seberapa penting isu ini bagi Anda? (dari 0 – 10)
  2. Kalau seandainya Anda memutuskan untuk berubah, sejauh mana Anda percaya diri bisa berubah? (dari 0-10)

Untuk keduanya, ada pertanyaan selanjutnya, yaitu:

  1. Mengapa Anda memilih angka X, bukan 0? (Fokus di apa yang sudah ada, bukan dengan kekurangan)
  2. Apa yang akan dibutuhkan untuk membuat Anda geser dari X ke Y?

Kalau setelah ditimbangkan isu tersebut dianggap cukup penting, seseorang akan mulai merancang perubahan yang mau dicapai. Mereka akan mencari informasi mengenai topik tersebut, bertanya ke teman-teman atau keluarga dst. Tentu saja inilah proses di mana kita mempunyai peran.

Kalau ketika merasa sudah terkumpul informasi dan terbentuk rencana (bisa sangat sederhana, rencana untuk satu kali melakukan sesuatu) akan mereka laksanakan. Biasanya kita bisa bolak balik di antara perencanaan dan pelaksanaan, mencoba lalu merencanakan kembali dst.

Terakhir, setelah pelaksanaan, kalau sudah ketemu model yang mau dilanjuti, masuk ke proses maintenance. Dan setelah itu ada dua kemungkinan – terus menerus melakukan hal itu, atau gagal dan kembali masuk siklus lagi.

Mungkin pada satu saat ke depannya akan muncul kembali ide yang terkait dan akan lebih gampang untuk masuk dalam proses perubahan, membangun di atas pengalaman sebelumnya. Sehingga setiap kali mengikuti siklus ini, harapannya adalah bahwa menjadi lebih mungkin untuk berhasil menahan perubahan tersebut. (Ada juga resiko bahwa kalau sudah gagal satu atau dua kali, orang akan tidak percaya diri bahwa mereka bisa berubah, atau bahwa perubahan ini cocok untuk mereka.)

Sebagai penggerak perubahan, kita punya peran penting dalam mendengar, mendampingi dan mendorong orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak terbuka atau belum merasa siap untuk berubah. Siklus perubahan menjelaskan fase-fase dalam perubahan yang sebaiknya kita memahami untuk bisa mendukung prosesnya secara optimal.