Rodi (bukan nama sebenarnya) tinggal bersama nenek dan adik yang masih usia sekolah. Sewaktu-waktu ia menanti kabar dari konveksi sekitarnya, jika mereka membutuhkan tenaga kerja atau buruh lepas harian. Karena Rodi tidak memiliki ijazah SMP, sangat sulit baginya menemukan pekerjaan yang layak. Ini adalah salah satu kondisi yang kami temui saat melakukan survei kondisi pendidikan dan ekonomi bagi remaja pemuda di Krendang.
Data BPS DKI Jakarta (2021) menunjukkan terdapat 17.19% usia muda (15-24 tahun) yang terjerat dalam kondisi NEET (Not in Education, Employment or Training), menempati posisi ketiga dibandingkan provinsi lain secara nasional. Tingkat NEET Nasional sendiri berada pada angka 23.22% pada 2022 dengan jumlah penggangguran terbanyak pada rentang 20-24 tahun.

Setelah tim YB3 melakukan survei sepanjang bulan Agustus 2024 terhadap 34 remaja pemuda usia 15-22 tahun dan 58 orang tua yang mempunyai anak pada rentang usia tersebut, kami mendapati bahwa satu dari tujuh remaja pada rentang usia tersebut tidak bersekolah dan empat dari lima pemuda tidak berkuliah. Tingkat pendidikan tersebut mempengaruhi kondisi perekonomian dimana 25% dari mereka berpenghasilan di bawah 2 juta per bulan.
Metode dan Hasil
Metode yang digunakan saat survei yaitu one on one interview dimana jenis pertanyaan digolongkan dalam 4 bagian besar: (1) akses dan kualitas terhadap pendidikan baik formal maupun informal, (2) pengaruh dan pandangan keluarga serta lingkungan terhadap pendidikan, (3) hobi dan cita-cita serta (4) pandangan remaja pemuda tentang berwirausaha.
Beberapa hasil yang kami temukan antara lain: pola perilaku remaja pemuda yang banyak dipengaruhi teman-teman dan lingkungan (social driven), kecenderungan pencarian info dari orang-orang di sekitar, menyukai adanya penghargaan instant dan konsep berwirausaha yang lebih berfokus pada adanya modal.
Temuan lainnya yaitu 40% responden pernah atau sedang mengambil les atau kursus, namun les yang paling umum yaitu pelajaran atau bahasa. Les atau kursus yang sifatnya soft skill jarang diambil. Kurangnya uang dan kurangnya minat adalah alasan terbesar untuk tidak mengikuti kursus.
Tindak Lanjut
Hasil dari survei ini menjadi referensi yang sangat berharga bagi pembentukan program pemberdayaan pendidikan dan ekonomi untuk remaja pemuda di Krendang yang kami beri nama program BERANI. Pilot project BERANI (Berdaya, Aktif dan Inovatif) melatih remaja pemuda mengidentifikasi masalah dari kebutuhan pendidikan dan peningkatan pendapatan. Didampingi YB3, mereka kemudian didorong menginisiasi mini proyek di wilayah untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Program yang akan dimulai pada 2025 ini akan dibagi dalam dua fase atau tahapan program. Fase pertama, yaitu tahapan untuk membentuk hubungan dimana bentuk kegiatan yang dijalankan lebih bersifat memantik keterlibatan dan menarik ketertarikan remaja pemuda. Fase kedua, merupakan mini proyek uji coba untuk melatih remaja pemuda mengidentifikasi masalah dan mencari solusi. Tujuan akhir dari program ini adalah adanya sekelompok remaja pemuda yang peduli dan mau bergerak untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan di lingkungan mereka.




