Dampak kunjungan bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel

Apakah Anda sudah pernah membaca artikel lain di website kami yang membahas tentang program untuk keluarga dengan anak disabilitas? Visi kami adalah anak-anak, keluarga, dan masyarakat berdaya, dan ini menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan memberdayakan individu dan keluarga kita bisa melihat bagaimana mereka berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Ada satu tantangan yang sering kali menghalangi perkembangan itu, yaitu kesepian. Dalam kunjungan yang kami lakukan, banyak ibu mengatakan bahwa mereka merasa sangat kesepian. Banyak ibu yang merasa sedih dan mempunyai pergumulan seperti, “Mengapa anak saya berbeda? Apa masa depan anak saya? Apa yang bisa anak saya lakukan? Apakah anak saya akan punya teman?” Banyak pertanyaan yang mungkin bisa Anda bayangkan. 

Namun, mereka tidak mempunyai teman mengobrol dan bercerita. Ada stigma di masyarakat tentang anak dengan disabilitas; jadi, tidak banyak yang mau mendengar cerita ibu atau memberi ruang untuk dia mengekspresikan diri. Walaupun ibunya ingin berbagi dengan orang-orang di sekitarnya, sering kali dia merasa malu dan memilih untuk tidak berbagi.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa program kunjungan rumah disambut baik oleh masyarakat, dan bisa berdampak. Saat tim YB3 masuk ke rumah, keluarga yang ditemukan selalu ditanya, “Bagaimana keadaan Anda sebenarnya? Tantangan apa yang Anda hadapi? Bagaimana perasaan Anda?” Menjadi sesuatu yang berharga bagi tim untuk mendengar mereka berbagi tentang pergumulan dan kekhawatirannya. 

Dari pengalaman ini selama satu tahun terakhir, muncul ide untuk mendirikan sebuah kelompok dukungan yang mengumpulkan ibu-ibu di dalam sebuah pertemuan informal, di mana mereka bisa mengenal ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan disabilitas, berbagi apa yang mereka hadapi dan bagaimana perasaan mereka, dan saling mendukung.

Selain kunjungan rumah dan kelompok dukungan, ada juga dampak dari aktivitas intervensi yang dilakukan dengan anak difabel. Untuk beberapa anak difabel dengan keterlambatan bicara, ada intervensi buku komunikasi yang terdiri dari gambar-gambar sederhana. Anak bisa menggunakan gambar-gambar tersebut untuk menunjukkan keinginan atau kebutuhan yang dia punya, sehingga bisa ditanggapi oleh ibunya atau gurunya.

Sempat diceritakan oleh salah satu guru demikian, “Sekarang saya mengerti apa yang anak ini inginkan. Anak tidak merasa frustrasi lagi karena keinginan dia bisa dimengerti”. Ini menjadi contoh bagaimana intervensi kecil bisa membawa dampak yang bermakna. Kemampuan berkomunikasi membangun rasa percaya diri dalam anak yang mendukung perkembangan lainnya juga.