Bekerja di bidang pemberdayaan masyarakat di dunia NGO bukanlah pilihan yang lazim bagi seorang lulusan magister biomedik. Tetapi, itu adalah hal yang saya inginkan. Keputusan saya untuk mengenyam pendidikan magister biomedik di peminatan sains reproduksi didorong oleh passion untuk mempelajari kesehatan reproduksi secara mendalam, agar saya kemudian dapat mengedukasi dengan keilmuan yang mumpuni. YB3 menjadi NGO pertama saya untuk berkontribusi setelah lulus program magister. Meskipun hampir 1 windu meninggalkan dunia NGO, pengalaman pendidikan sarjana, bekerja, serta berorganisasi saya sebelumnya telah banyak membantu saya untuk beradaptasi dengan segera.
Peran pertama saya di YB3 adalah sebagai seorang community development officer. YB3 adalah yayasan yang baru berdiri dengan tim yang kecil. Jadi, pada waktu itu kami benar-benar mengerjakan hampir semua hal. Dituntut untuk menjadi serba bisa. Belum sampai satu tahun, saya kemudian dipercayakan untuk menjadi koordinator bidang kesehatan. Terdengar keren, ya? Tetapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan ketika menjalankan peran ini. Ada banyak harapan yang saya sadari dilekatkan dalam peran tersebut. Tahun pertama menjalaninya, saya merasa hampir putus asa dan tidak mumpuni. Namun, saya menyadari itu adalah proses perbesaran kapasitas.
Bidang kesehatan merupakan bidang yang paling berkembang hingga saat ini. Ada tiga program yang ditanggungjawabi oleh awalnya dua orang, kemudian sekarang menjadi tiga orang. Ketiga program tersebut adalah : Keluarga Sehat, Remaja 101 dan Disabilitas. Ibu kepala sekolah, ibu rumah tangga atau anak-anak SD yang menjadi peserta program biasanya memanggil saya dengan sapaan Kak Friska. Selama hampir tiga tahun bergabung dengan YB3 dan bersentuhan langsung dengan masyarakat dari berbagai kelompok usia, tentu saja jadi banyak kenalan. Saya tidak kaget lagi tiba-tiba dipanggil oleh salah seorang peserta program yang mungkin saya sendiri sudah lupa namanya.

Jauhkan dari bayangan kalian bahwa tugas seorang koordinator hanya mengawasi melalui laporan-laporan staf pelaksana dan cukup duduk bekerja di depan layar sepanjang waktu. Tidak demikian, anak muda! Seperti penjelasan sebelumnya, YB3 memiliki tim yang kecil, jadi ketika diberi peran lebih besar, pekerjaan juga menjadi semakin banyak dan padat. Tetapi, bukan berarti pekerjaannya jadi seperti memenjarakan dan membuat tertekan. Saya akan menceritakan secara singkat agar kalian mendapat gambaran yang jelas.
Masyarakat pra-sejahtera yang dilayani mayoritas memiliki pendidikan SMA ke bawah. Sebagian yang ditemui adalah penduduk asli, sebagian lainnya adalah pendatang yang memilih untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama di Krendang. Meskipun tinggal di ibukota dengan segala kelengkapan fasilitas, ironisnya mereka masih tetap tinggal dalam ketidakberdayaan – entah karena pengetahuan yang tidak ada atau sangat sedikit, maupun keterbatasan kemampuan (fisik, ekonomi, dll) untuk mengaksesnya. Hal ini terjadi hampir di semua aspek, termasuk kesehatan.

Kondisi yang dipaparkan itu sangat memengaruhi tugas sebagai seorang koordinator. Sebelum awal tahun, saya bersama tim akan membuat perencanaan pelaksanaan hingga monitoring evaluasi juga pengembangan program sepanjang satu tahun. Ini adalah bagian yang jujur saja sering membuat saya frustasi, terlebih kalau banyak hal yang perlu direvisi. Dalam perencanaan itu, empati terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang dilayani harus terus aktif, agar program yang dirancang bisa “mendarat” dan bukan malah “melayang”. Seringkali saya harus membuang idealisme dan ekspektasi saya dan menyesuaikan diri dengan realita yang dihadapi di lapangan. Saya beritahu kepada kalian, ini adalah salah satu cara menjaga kesehatan mental di pekerjaan yang bersentuhan dengan orang banyak!
Perencanaan selesai, maka terbitlah pelaksanaan. Sebagai seorang koordinator, saya juga langsung turun melaksanakan program bersama tim. Bukan hanya tim, tetapi juga relawan ikut serta sesuai kapasitas dan ketersediaan waktu mereka. Bagian ini juga terkadang menimbulkan stres, karena ada saja bulan atau “waktu-waktu favorit“ pelaksanaan program. Masa kritis seperti ini sudah bisa diprediksi, karena itu penting banget untuk mengembangkan keterampilan manajemen waktu, khususnya di masa ini. Di sini peran saya memastikan bahwa semua program bisa berjalan dalam keterbatasan jumlah tim yang ada. Juga, agar semua tim (baik staf maupun relawan) yang melaksanakan program memahami tugas dan tanggungjawabnya dan tetap waras!
Sambil menyelam minum air, tetapi tidak akan kelelep, itu adalah kunci dalam mengembangkan program. Saat melaksanakan program, saya dan tim harus jeli menangkap atau bahkan menciptakan berbagai kesempatan yang terbuka untuk membawa program menjadi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Ini adalah keterampilan yang masih perlu saya kembangkan terus-menerus. Melalui komunikasi dengan berbagai pihak dan kelompok, biasanya saya dan tim mulai bisa memperkirakan potensi perkembangan program.

Setiap program yang ada wajib hukumnya untuk dilakukan monitoring dan evaluasi. Apalagi, salah satu nilai yang sangat melekat dengan YB3 adalah “berdampak”. Karena kita tidak mau sia-sia berlelah-lelah, kita mau memastikan sejak awal usaha kita memang menuju pencapaian tujuan dan dampak yang diharapkan. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi tidak dilakukan hanya satu kali per tahun, melainkan setiap kali kegiatan program dilaksanakan. Inilah alasan mengapa instrumen monitoring dan evaluasi berbagai kegiatan menjadi bagian penting dari suatu kegiatan. Meskipun kegiatan program terlihat sederhana, kompleksitasnya begitu terasa dimulai sejak dari persiapan.
Jadi, bagaimana? Apakah kamu yang membaca ini tertarik mencoba peran koordinator? Saya harap jawabanmu adalah : YA! Karena ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan dari diri sendiri ketika menjalani tanggung jawab dengan bahagia. Tenang saja, meskipun rasanya ketika kalian membaca ini, jumlah pekerjaannya terasa seperti tumpukan buku di perpustakaan umum, saya tetap punya waktu untuk menikmati sekedar duduk santai atau nongkrong sama teman-teman, bahkan tetap bisa berkontribusi sebagai anggota atau pengurus di organisasi lain. Pesanku cuma satu : jangan takut dengan tanggungjawab besar, take it and you’ll growing stronger!




