Berdaya sehingga tak diperdaya : tulisan seorang pembina

Saya tidak pernah menyangka bahwa ada sebuah kesempatan datang kepada saya untuk bergabungi dalam sebuah yayasan. Di dalam rencana career track yang saya buat kurang lebih satu dekade lalu (yang mana, rencana tersebut tak lagi relevan), saya tidak memasukkan rencana untuk bergabung di dalam sebuah yayasan dan duduk sebagai member of the board, atau bahkan: menjadi pembina yayasan

Lebih lanjut, yayasan tersebut adalah yayasan yang bergerak di dalam pemberdayaan masyarakat ekonomi rentan (urban poor) di kawasan Krendang. Sebuah kawasan yang dikenal secara umum di sosial media adalah kawasan pusat makanan enak, yang padahal Krendang memiliki potensi dan juga masalah sosial yang lebih dari juga “seramai” ce hun tiaw itu. 

Rambut Saya Kurang Putih

Saat saya diminta untuk menjadi pembina ad-interim karena pembina yayasan sebelumnya, saya tertawa dan berkata, “Wah, rambut saya kurang putih untuk duduk sebagai pembina.” Menjadi pembina upacara saja belum pernah, ini menjadi pembina sebuah yayasan. 

Namun, saya kemudian berpikir lagi: apa benar bahwa untuk terlibat di dalam pemberdayaan masyarakat, saya harus menunggu sampai rambut saya memutih (baca: tua)? Bukankah selama tenaga masih ada, turut serta dalam mewujudkan keadilan sosial, masyarakat yang inklusif dan terbuka, dan mengembangkan pola pikir masyarakat urban poor di Jakarta, adalah kewajiban tanpa syarat usia? 

Jadi, premis saya patah begitu saja ketika saya merenungkan. Kalau memang hidup hanya sekali, maka rasanya sayang kalau tidak dipakai berdaya guna, tidak hanya untuk diri sendiri (ini namanya egosentris) tetapi juga untuk orang sekitar. 

Dengan perenungan itulah yang kemudian, tidak salahnya untuk memberikan daya dan upaya untuk membantu yayasan ini, Yayasan Bina Berdaya Bangsa. 

How to minimise the gap between you, me and them? 

Saya berpikir bahwa permasalahan masyarakat urban atau secara khusus urban poor community adalah sebuah permasalahan yang menjadi perenungan kita semua secara bersama-sama. Di Jakarta, dengan mudahnya kita mendapatkan menu makan malam seharga Rp1juta rupiah untuk orang dan sebaliknya, dengan uang yang sama bisa memberi makan malam untuk satu keluarga kecil selama satu minggu. 

Sadar atau tidak sadar, di balik megahnya kantor-kantor di Sudirman Central Business DIstrict, dengan mudahnya kita juga menemukan kampung kecil dengan rumah petak yang diisi mungkin lebih dari lima orang. Gap kehidupan kita sesama manusia, semakin berjarak dan ini yang kemudian dapat dengan mudahnya memantik “perang saudara” atau pertentangan antara kelas sosial. 

Pertanyannya lagi, tangan di atas atau tangan di bawah?

Memberdayakan bukan mengajarkan

Saya selalu membayangkan bahwa membantu masyarakat rentan secara ekonomi dan sosial di perkotaan ini bukanlah dengan cara mengajarkan atua menggurui. Bukankah kita selalu sebal kalau digurui atau bahkan didikte oleh orang yang sebenarnya itdak tahu apa-apa tentang hidup kita sendiri? Konsep tanganku di bawah dan tanganmu di atas adalah konsep yang menurut saya, bukan prinsip yang tepat dan prinsip ini yang kemudian saya pegang ketika bergabung di YB3. 

Seiring berjalannya dengan waktu, saya justru lebih banyak belajar, belajar untuk memberdayakan dengan mendengarkan tentang apa yang dibutuhkan oleh para staf yayasan dan relawan, dan terlebih lagi masyarakat di Krendang, rumah kam sehari-hari dalam beraktivitas. 

Acapkali kita juga terperdaya oleh cara-cara instan untuk membuat kelompok masyarakat rentan secara ekonomi dan sosial untuk membuat mereka “naik kelas” namun sebenarnyam tidak sustain secara jangka panjang dan tidak mengubah paradigma berpikir masyarakat, Mengubah pola pikir, perilaku dan juga cara hidup adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah dengan energi dan upaya yang sifatnya jangka panjang, butuh waktu. Kesabaran, sifat ini yang sepertinya tidak dimiliki oleh banyak orang (termasuk juga saya, yang mana saya sedang berusaha untuk melatihnya).

Keterlibatan saya di YB3 bukanlah dengan dasar bahwa “saya lebih tinggi” atau, “saya lebih mampu” tetapi kesadaran penuh bahwa untuk bisa bergandengan tangan dalam menghadapi permasalahan kemiskinan, isu sosial dan juga keadilan sosial haruslah di dalam satu level yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi di dalam proses ini, kita semua setara. Kelompok masyarakat rentan secara sosial dan ekonomi tidak merasa terpedaya dan sebaliknya, kita tidak akan melakukan usaha tipu daya agar program berhasil. Ini hal yang kami takutkan dan hindari.

Banyak cara untuk memberdayakan, tidak hanya dengan duduk sebagai organ di YB3, tetapi banyak upaya yang bisa dilakukan. 

Pertanyaannya: maukah kita melakukannya?